Khawatir Amalan Lenyap Tanpa Sadar
Kategori: Akhlaq
dan Nasehat
Imam Bukhari rahimahullah membuat bab di dalam Shahihnya di Kitab
al-Iman sebuah bab dengan judul “Bab. Rasa takut seorang
mukmin dari lenyapnya amalannya dalam keadaan dia tidak menyadarinya”.
Di dalamnya beliau membawakan perkataan para ulama salaf yang
menunjukkan betapa besar rasa takut mereka terhadap hal ini. Takut
kalau-kalau apa yang selama ini mereka lakukan ternyata tidak
bermanfaat di sisi Allah ta’ala. Padahal, mereka adalah
mereka …
Imam Ibnu Baththal rahimahullah menerangkan bahwa
tujuan Imam Bukhari dengan bab ini adalah dalam rangka membantah
sekte Murji’ah yang mengatakan bahwasanya Allah sama sekali tidak
akan mengazab karena kemaksiatan terhadap orang yang telah
mengucapkan laa ilaha illallah. Dan menurut Murji’ah pula,
bahwa amalan para pelaku maksiat itu pun tidak akan terhapus dengan
sebab dosa apapun. Dengan latar belakang itulah Imam Bukhari
membawakan di awal bab ini ucapan para imam dari kalangan tabi’in
dan juga penukilan dari para Sahabat yang menunjukkan bahwasanya
meskipun mereka adalah orang-orang yang memiliki keutamaan dan
kesungguhan dalam beramal namun ternyata mereka masih menganggap
sedikit amalannya, dan mereka takut kalau-kalau dirinya tidak akan
selamat dari azab Allah (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya
Ibnu Baththal [1/110])
[1] Ucapan Ibrahim at-Taimi
Ibrahim at-Taimi rahimahullah berkata, “Tidaklah
aku menghadapkan ucapanku kepada perbuatanku kecuali aku khawatir
bahwa aku pasti akan didustakan.” Ibrahim at-Taimi adalah salah
seorang fuqaha tabi’in dan ahli ibadah diantara mereka. Maksud
ucapan beliau adalah: Aku takut orang yang melihat amalanku akan
mendustakanku apabila perbuatanku bertentangan dengan apa yang aku
katakan. Sehingga orang itu akan berkata, “Seandainya kamu jujur
niscaya kamu tidak akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan
ucapanmu.” Beliau mengucapkan hal itu karena beliau adalah
orang yang sering memberikan nasehat dan pelajaran kepada
orang-orang.
Sebagai orang yang biasa memberikan nasehat kepada orang lain,
beliau menyadari bahwa dirinya tidak bisa mencapai puncak
kesempurnaan amalan. Di sisi yang lain, beliau juga mengetahui bahwa
Allah mencela orang yang memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari
yang mungkar namun tidak beramal dengan baik. Allah ta’ala berfirman
(yang artinya), “Amat besar kemurkaan di sisi Allah, ketika
kalian mengucapkan apa-apa yang kalian sendiri tidak lakukan.” (QS.
ash-Shaff: 3). Oleh karena itulah beliau merasa khawatir dirinya
termasuk golongan pendusta atau menyerupai perilaku para pendusta (lihat Fath
al-Bari [1/136-137])
[2] Ucapan Ibnu Abi
Mulaikah
Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata, “Aku telah
bertemu dengan tiga puluh orang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Mereka semua takut kemunafikan minimpa dirinya. Tidak ada
seorang pun diantara mereka yang mengatakan bahwa keimanannya
sejajar dengan keimanan Jibril dan Mika’il.” Para Sabahat yang
ditemui oleh Ibnu Abi Mulaikah ketika itu -yang paling mulia
diantara mereka- adalah ‘Aisyah, Asma’, Ummu Salamah, Abdullah bin
‘Abbas, Abdullah bin ‘Umar, Abdullah bin ‘Amr, Abu Hurairah, ‘Uqbah
bin al-Harits, dan al-Miswar bin Makhramah.
Perasaan itu muncul dalam diri mereka disebabkan seorang mukmin
terkadang amalannya tercampuri oleh hal-hal yang bertentangan dengan
keikhlasan. Bukan berarti, apabila mereka takut akan hal itu mereka
benar-benar terjerumus ke dalamnya. Akan tetapi itu semua
dikarenakan kesungguhan mereka dalam hal wara’/kehati-hatian dan
ketakwaan. Mereka juga menyadari bahwa keimanan manusia tidaklah
seperti keimanan Jibril yang tidak pernah tertimpa kemunafikan.
Mereka menyadari bahwa keimanan manusia itu bertingkat-tingkat,
tidak dalam derajat yang sama. Tidak sebagaimana orang-orang
Murji’ah yang beranggapan bahwa keimanan orang-orang yang paling
baik (kaum shiddiqin) sama dengan keimanan orang-orang selain mereka
(lihat Fath al-Bari [1/137])
[3] Ucapan Hasan
al-Bashri
Hasan al-Bashri rahimahullah juga mengatakan, “Tidaklah
merasa takut darinya (kemunafikan) kecuali orang mukmin.” Ja’far
al-Firyabi mengatakan: Qutaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata:
Ja’far bin Sulaiman menuturkan kepada kami, dari al-Mu’alla bin
Ziyad. Dia berkata: Aku mendengar al-Hasan bersumpah di dalam masjid
ini, “Demi Allah, yang tidak ada sesembahan -yang benar- selain
Dia.
Tidaklah berlalu dan hidup seorang mukmin melainkan dia pasti
merasa takut dari kemunafikan. Dan tidaklah berlalu dan hidup
seorang munafik melainkan dia pasti merasa aman dari kemunafikan.” Beliau
(Hasan al-Bashri) berkata, “Barangsiapa yang tidak khawatir
dirinya tertimpa kemunafikan maka justru dialah orang munafik.” (lihat Fath
al-Bari[1/137])
Demikianlah Karakter
Mereka …
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya
orang-orang yang karena rasa takut mereka kepada Rabbnya maka mereka
pun dirundung oleh rasa cemas. Orang-orang yang mengimani ayat-ayat
Rabb mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Rabb mereka.
Begitu pula orang-orang yang memberikan apa yang mampu mereka
sumbangkan sementara hati mereka diwarnai dengan rasa takut,
bagaimana keadaan mereka kelak ketika dikembalikan kepada Rabb
mereka.
Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam melakukan
kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang terdahulu
melakukannya.” (QS. al-Mu’minun: 57-61)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “ Bersama
dengan kebaikan, keimanan, dan amal saleh yang ada pada diri mereka
ternyata mereka juga senantiasa merasa takut dan khawatir akan
hukuman Allah serta makar-Nya kepada mereka. Sebagaimana yang
dikatakan oleh Hasan al-Bashri, “Seorang mukmin memadukan antara
berbuat ihsan/kebaikan dengan rasa takut. Adapun orang kafir
memadukan antara berbuat jelek/dosa dan rasa aman.”.” (lihat Tafsir
al-Qur’an al-’Azhim [5/350] cet. Maktabah at-Taufiqiyah).
Isma’il bin Ishaq menyebutkan riwayat dengan sanadnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha,
bahwa suatu ketika dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam tentang orang-orang yang dimaksud oleh ayat
(yang artinya), “Orang-orang yang memberikan apa yang telah
berikan, sedangkan hati mereka merasa takut.” (QS. al-Mukminun:
60). Maka Nabi menjawab, “Mereka itu adalah orang-orang yang
rajin menunaikan sholat, berpuasa, dan bersedekah. Meskipun
demikian, mereka merasa takut apabila amal-amal mereka tidak
diterima di sisi-Nya.” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya
Ibnu Baththal [1/110])
Demikianlah keadaan orang-orang yang tauhidnya lurus. Mereka
khawatir diri mereka terjerumus dalam hal-hal yang merusak keimanan
mereka dalam keadaan mereka tidak menyadarinya. Ibrahim ‘alahis
salam -seorang Nabi Allah, Ulul Azmi, bapaknya para Nabi,
pemimpin orang-orang yang bertauhid, dan kekasih ar-Rahman- pun
menyimpan rasa takut yang sangat besar dari kemusyrikan. Allah ta’ala mengisahkan
doa yang beliau panjatkan, “(Wahai Rabbku) Jauhkanlah aku dan
anak keturunanku dari menyembah berhala.” (QS. Ibrahim: 35).
Ibrahim at-Taimi pun berkomentar, “Lantas, siapakah yang bisa
merasa aman dari musibah (syirik) setelah Ibrahim?” (lihat Fath
al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 72 cet. Dar al-Hadits)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Ibrahim
‘alaihis salam bahkan mengkhawatirkan syirik menimpa dirinya,
padahal beliau adalah kekasih ar-Rahman dan imamnya orang-orang yang
hanif/bertauhid. Lalu bagaimana menurutmu dengan orang-orang seperti
kita ini?! Maka janganlah kamu merasa aman dari bahaya syirik.
Jangan merasa dirimu terbebas dari kemunafikan. Sebab tidaklah
merasa aman dari kemunafikan kecuali orang munafik. Dan tidaklah
merasa takut dari kemunafikan kecuali orang mukmin.” (lihat al-Qaul
al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [1/72] cet. Maktabah al-’Ilmu)
Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah berkata, “Apabila
Ibrahim ‘alaihis salam; orang yang telah merealisasikan tauhid
dengan benar dan mendapatkan pujian sebagaimana yang telah
disifatkan Allah tentangnya, bahkan beliau pula yang telah
menghancurkan berhala-berhala dengan tangannya, sedemikian merasa
takut terhadap bencana (syirik) yang timbul karenanya (berhala).
Lantas siapakah orang sesudah beliau yang bisa merasa aman dari
bencana itu?!” (lihat at-Tamhid li Syarh Kitab at-Tauhid,
hal. 50)
Kisah Tsabit bin Qais
Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, beliau mengisahkan:
Tatkala turun ayat ini (yang artinya), “Wahai orang-orang yang
beriman janganlah kalian mengangkat suara kalian lebih tinggi
daripada suara Nabi. Dan janganlah kalian mengeraskan suara kalian
di hadapannya sebagaimana kalian ketika kalian berbicara satu dengan
yang lain, karena hal itu akan membuat amal kalian menjadi terhapus
dalam keadaan kalian tidak menyadari.” (QS. al-Hujurat: 2).
Maka Tsabit bin Qais pun hanya duduk di rumahnya dan berkata, “Aku
termasuk penghuni neraka.” Dan dia pun menutup diri tidak mau
berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bertanya kepada Sa’ad bin Mu’adz, “Wahai
Abu ‘Amr, ada apa dengan Tsabit? Apakah dia sedang sakit?”.
Sa’ad menjawab, “Sesungguhnya dia adalah tetanggaku.
Dan
sepengetahuanku dia tidak sakit.” Anas berkata: Maka Sa’ad bin
Mu’adz pun mendatanginya lalu menceritakan kepadanya perkataan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Tsabit
pun menjawab, “Telah turun ayat ini. Dan kalian pun mengetahui
bahwasanya aku adalah orang yang paling tinggi suaranya dibandingkan
kalian di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau
begitu berarti aku termasuk penghuni neraka.” Kemudian, Sa’ad
pun menceritakan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bahkan
dia termasuk penghuni surga.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman [119])
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “ Apabila
dengan mengangkat suara mereka lebih tinggi daripada suara beliau
itu menjadi sebab terhapusnya amalan mereka, maka bagaimana lagi
dengan orang yang lebih mendahulukan pendapat mereka, akal mereka,
perasaan mereka, politik mereka, atau pengetahuan mereka daripada
ajaran beliau bawa dan mengangkat itu semua di atas sabda-sabda
beliau? Bukankah itu semua lebih pantas lagi untuk menjadi sebab
terhapusnya amal-amal mereka?” (lihat adh-Dhau’ al-Munir
‘ala at-Tafsir [5/407])
Lihatlah saudaraku, bagaimana para ulama salaf dengan ketakwaan dan
ilmu yang mereka miliki. Mereka begitu merasa takut dirinya tertimpa
kemunafikan. Demikian pula Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang
khawatir dirinya terjerumus dalam kemusyrikan. Begitu pula, Sahabat
Tsabit bin Qais radhiyallahu’anhu yang takut amalnya
terhapus karena suaranya lebih tinggi daripada suara Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Tidakkah kita -dengan segala kekurangan dan
dosa yang kita miliki- merasa takut diri kita terjatuh ke dalam
kemunafikan, syirik, dan terhapusnya amal kita dalam keadaan kita
tidak sadar?! Aduhai, siapakah kita jika dibandingkan dengan mereka
semua??
Sumber
Artikel Muslim.Or.Id
Copied and Posted by : Rachmat Machmud Flimban